Sebuah buku yang saya pinjam gratis di Perpustakaan Daerah Kota Surakarta, berjudul Me & Mr Perfect. Bukunya yang tebal makin menarik perhatian ketika tertulis "Best Seller" di sampulnya. Novel karya Aretha Amelia konon sudah dibaca jutaan kali di aplikasi baca Watpad. Penasaran akan isinya, saya baca blurb yang tertulis di belakangnya.
Dan benar, buku ini menarik minat saya. Tak perlu pikir panjang langsung saja saya bawa ke Meja Sirkulasi untuk melakukan peminjaman.
==================
Novel ini dikisahkan dari sudut pandang 2 pemeran utama yakni Maura Anindya Parvati dan juga Michael Veron Soedjono.
Maura dikisahkan sebagai seorang ahli IT di sebuah perusahaan elektronik yang bertugas untuk melakukan riset dan pengembangan produk baru. Layaknya ahli IT lainnya tentu Maura memiliki gaji di atas rata-rata pekerja kantoran, walaupun yaa dalam novel ini dia dikisahkan "tidak kaya" (ya iyalah lha wong dibandingkan dengan pewaris tunggal perusahaan global). Hal ini bisa dilihat dari mobil Maura yang diceritakan adalah mobil Mini Cooper, walaupun belinya second hand dan sering mogok, tapi sekelas Mini Cooper di Indonesia hanya akan dimiliki orang-orang berduit kan ya.
Sudut pandang kedua adalah dari tokoh pemeran pria, yakni Michael Veron Soedjono. Seperti layaknya kisah cinta yang lain, dia dikisahkan sebagai pria dingin nan angkuh yang tak percaya pada cinta karena adanya trauma masa lalu. Dan bisa dipastikan, seperti sosok pangeran di negeri dongeng, Veron dikisahkan sebagai pewaris tunggal Soedjono Grup, perusahaan konstruksi global yang punya banyak aset di Indonesia bahkan di mancanegara.
Maura dan Veron tak sengaja bertemu ketika berpapasan di sebuah minimarket dan dompet mereka tertukar. Karena desakan orang tuanya untuk menikah, Veron mengajak Maura menikah kontrak. Bisa ditebak, ketika ada pernikahan kontrak dalam novel atau drama pasti akan berakhir saling jatuh cinta.
Namun konflik tak hanya berhenti disana. Ada tambahan tokoh yang memanaskan suasana. Usut diusut ternyata penyebab trauma Veron pada cinta adalah cinta pertamanya yang juga adalah saudara tirinya. Ibu dari pacarnya saat itu menikah dengan ayah kandung Veron, inilah penyebab trauma Veron dan menyebabkan dia memandang rendah semua perempuan. Terlebih ketika si Sarah, nama perempuan itu memilih untuk pergi meninggalkannya tanpa penjelasan apapun dan meniti karir sebagai model.
Konflik makin rumit dengan adanya pihak ketiga, yakni Marco, atasan Maura yang juga sahabat dan seseorang yang memendam dalam diam rasa suka padanya. Perusahaan Marco juga adalah rekanan perusahaan milik Veron. Pelik bukan?
Akan makin pelik lagi ketika konflik lain bermunculan, terkait ibu kandung Veron, saudara angkat Veron, dan juga kematian saudara Maura.
Semua konflik itu terjalin indah dalam untaian kata demi kata, sehingga tak sadar pembaca juga larut di dalamnya.
Namun yang sedikit membagongkan adalah ketika karakter cinta pertama Veron yang adalah saudara tirinya menikah dengan Marco, sahabat Maura yang juga menyimpan rasa padanya.
Apakah mungkin orang yang pernah bersinggungan di masa lalu bisa beraktivitas bersama tanpa adanya desiran perasaan akan masa lalunya?
Terlepas dari semua kekurangannya, novel ini tetap layak untuk dinikmati sebagai hiburan di kala senggang.