Awal mula membaca novel ini ketika saya browsing beberapa novel best seller, salah satunya adalah karya Ilana Tan ini. Dan ternyata Nemu juga nih novel di PerpusDa Solo. Setelah berminggu-minggu dianggurin, akhirnya kelar juga bacanya.
Novel ini berkisah tentang harapan dan impian seorang penari balet kontemporer, Mia Clark. Di novel diceritakan, Mia adalah seorang gadis berwajah Asia, yang sejak kecil diadopsi oleh pasangan Amerika dan tinggal di Huntington, Amerika Serikat. Ayah Mia seorang profesor, sementara ibunya seorang akuntan. Mia yang sejak kecil mempunyai cita-cita menjadi seorang penari setelah diajak ibunya menonton sebuah pertunjukan Broadway, ternyata memang memiliki bakat terpendam, dan tak disangka dia termasuk salah satu murid berbakat di Sekolah Seni Juilliard di bidang Tari. Bahkan disebut-sebut Mia merupakan 1 dari 5 penari terbaik saat ini. Mia sempat bergabung dalam sebuah grup penari profesional bernama Dee Black Dance Company, namun karena sebuah alasan tertentu dia mengundurkan diri dan memilih menjadi guru di sebuah sanggar tari bernama Small Steps.
Di sanggar tari tersebut, Mia mempunyai seorang teman pengajar dance b-boy bernama Ray Hirano. Dalam novel diceritakan, Ray adalah keturunan Jepang-Amerika. Dia mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Alex Hirano, seorang pianis terkenal.
Pertemuan Mia dan Alex Hirano, sangat lah tak terduga, ketika itu Mia divonis mengalami penurunan fungsi jantung, Karena pikirannya yang kalut dia menjatuhkan diri dari atas tangga di sanggar tarinya, tanpa diduga Alex dan Ray sedang berada disana, dan Mia mengenai tangan Alex. Secara tak sengaja Mia membuat tangan Alex terkilir dan menyebabkan Alex harus menunda semua konsernya di Amerika. Karena perasaan bersalah, Mia meminta maaf dan berusaha bertanggungjawab dengan menjadi "pesuruh dan pembantu rumah tangga" Alex. Karena intensitas pertemuan mereka, Alex dan Mia menjadi semakin dekat, sehingga muncullah benih-benih kekaguman dan berakhir dengan perasaan cinta satu sama lain. Namun, karena memiliki masalah kesehatan Mia tak pernah mau menjalin sebuah hubungan. Bahkan Mia tak pernah mengakui perasaannya.
Hingga pada suatu hari, bertemulah Mia dan pimpinan Dee Black Dance Company tempatnya dulu pernah bergabung. Dee Black meminta Mia untuk tampil dalam 1 pertunjukan terakhir mereka di New York. Hal ini membuat kesehatannya makin menurun, dan berakibat Anfal. Hingga akhirnya Mia menemui ajalnya.
Semenjak bertemu dengan Mia, Alex yang awalnya dingin dan kejam, berubah menjadi lebih hangat, sehingga terciptalah sebuah lagu Sunshine Becomes You. Yang terinspirasi dari sosok Mia Clark.
Sampai akhir hidup Mia, Alex tak pernah tau bagaimana sebenarnya perasaan gdis itu padanya, hingga suatu hari ayah Mia memberikan sebuah camcoder kenangan Mia. Dan ternyata Mia mengungkapkan perasaannya pada Alex melalui rekaman video, karena dia tidak yakin bisa menjanjikan masa depan untuk Alex ketika harus menjawab pernyataan cintanya.
Sunshine Becomes You adalah sebuah novel roman yang indah, dan dibalut beberapa adegan komedi yang membuat pembaca tertawa dan tersenyum ketika membacanya. Namun entah kenapa, ketika disadur menjadi sebuah film saya merasa banyak plot hole dan alurnya terkesan terlalu dipercepat.
Di filmnya, sosok Mia Clark dikisahkan sebagai orang Indonesia, sementara keluarga Hirano adalah keturunan Jepang-Indonesia. Walaupun agak berbeda tapi masih bisa dimaklumi. Pemilihan tokoh Boy William sebagai Ray Hirano pun juga bisa diterima. Namun pemilihan pemeran Mia Clark dan Alex Hirano saya rasa kurang enak ditonton. Alex Hirano digambarkan sebagai sosok yang dingin, keturunan Jepang, namun tampan dan berwibawa, sementara Herjunot Ali, pemeran Alex Hirano tak bisa menggambarkan sosok Jepangnya. Dan sikap dinginnya pun terlihat tidak alami. Awalnya ketika membaca novel ini saya membayangkan Alex Hirano seperti sosok Chef Arnold ataupun Chef Juna yang masih agak-agak berbau oriental. Namun agak kaget ketika melihat filmnya ternyata diperankan oleh Herjunot Ali.
Pun dengan pemilihan pemeran Mia Clark. Walaupun Nabila JKT48 punya basic penari, namun aktingnya di layar kaca masih terlihat kaku dan kurang natural. Sedikit menggangu persepsi penonton yang menikmati novelnya terlebih dahulu. Karena di dalam novel, sosok Mia digambarkan sebagai gadis sederhana, ramah dan periang. Kesan itu tidak saya dapatkan ketika melihat versi filmnya.
Ketika membaca ending novelnya, ada kesan sedih yang mendalam yang bisa dirasakan oleh pembaca. Namun Kesan itu tak kita rasakan ketika kita menonton filmnya.
Yaahh beginilah memang ketika sebuah novel disadur menjadi sebuah film. Pasti akan ada ketidakpuasan dari penonton. Karena ketika kita membaca sebuah novel, penggambaran karakter akan mengikuti imajinasi dari si pembaca. Dan penggambaran setiap orang tidaklah sama. Itulah mengapa perspektif setiap orang kepada versi live actionnya pasti akan berbeda beda.